Seminar Nasional Arbitration And The New International Commercial Court: Are They In Competition?
Kamis, 07 Maret 2019

Pada tanggal 6 Maret 2019 Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara bekerjasama dengan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dan Asian Law Institute Mengadakan Seminar Nasional Tentang Arbitrase, acara seminar dilaksanakan ruang seminar lantai 6 gedung utama Universitas Tarumanagara. Acara dihadiri dari Mahasiswa dan Umum dalam pembahasan acara seminar ini Pengadilan Komersial Internasional yang baru - bersaing dengan arbitrase?.

Acara seminar dimulai dengan dibawakan oleh MC dan mulailah acara dengan menyayikan lagu Indonesia raya, selanjutnya pembukaan dengan sambutan dari Perwakilan BANI yang memberikan sambutan pembukaan dalam acara seminar ini beliau mengatakan topik yang dibahas sangat menarik dalam acara ini, karena membahas tentang arbitrase, Indonesia memiliki undang-undang nasional dan bukan undang-undang kolonial, dengan arbitrase mekanisme ini untuk menyelesaikan sebelum ke pengadilan dalam menyelesaikan sengketa. Dan lama seminar ini untuk pandangan arbitrase di Indonesia akan sejajar dengan Singapore.

Sambutan selanjutanya oleh Dr. R.M. Gatot P. Soemartono, S.E., S.H., M.M., L.LM. sebagai Moderator dalam acara ini, beliau memperkenalkan diri dan memberikan paparan tentang arbitrase, selanjutnya acara inti seminar dimulai dengan Pembicara pertama oleh Associate Professor Gary F. Bell dari National University of Singapore, beliau memberikan materi tentang The new International Commercial Courts – competing with arbitration?   The Example of the Singapore International Commercial Court, Professor Gary F. Bell dari seminar ini memberikan contoh Pengadilan Niaga Internasional Singapura Selalu ada persaingan antara pengadilan dan ICA, Pengadilan Komersial di London misalnya telah ada di sana selama lebih dari satu abad dan menarik banyak perselisihan komersial internasional

Apa yang baru:

Pengadilan dibuat dengan tujuan menarik perselisihan internasional - mungkin jauh dari arbitrase

Brexit: Eropa kontinental berusaha bersaing dengan London - dalam bahasa Inggris, bahasa utama untuk perdagangan internasional

Pengadilan dibuat atau dibuat di Paris, Amsterdam, Brussels dan Frankfurt. [Dan jauh sebelum itu: Dubai]

Di manakah Singapore International Commercial Court (SICC) cocok? Dan beberapa paparan dalam seminar ini, setelah pemateri pertama maka selanjutnya dengan pemateri yang kedua oleh Dr. Ir. Anita Dewi Anggraeni, S.H., M.H., memberikan paparan dalam memberikan dukungan kelembagaan yang diperlukan untuk bertindak secara otonomi dan independen dalam penegakan hukum dan keadilan, di Indonesia minat untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase mulai meningkat sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU Arbitrase). Perkembangan ini sejalan dengan arah globalisasi, di mana penyelesaian sengketa di luar pengadilan telah menjadi pilihan pelaku bisnis untuk menyelesaikan sengketa bisnis mereka. Selain karakteristik cepat, efisien dan tuntas, arbitrase menganut prinsip win-win solution, dan tidak bertele-tele karena tidak ada lembaga banding dan kasasi. Setelah itu acara selanjutnya Tanya jawab dari beberapa peserta seminar dan kesimpulan dari materi seminar adalah Terlalu dini untuk mengetahui dampak SICC, dan pengadilan serupa, terhadap arbitrase Sejauh ini dampaknya terbatas Dari 2016 hingga Agustus 2018: hanya 29 penilaian SICC, termasuk banding dan masalah selama Pada 2016 dan 2017, SIAC menangani 795 kasus baru SICC pada awalnya tetapi tampaknya tidak terburu-buru dari arbitrasi menuju SICC Ini adalah alternatif yang baik dan saya senang itu tersedia, tetapi saya tidak berpikir itu merupakan ancaman besar, apalagi ancaman eksistensial terhadap arbitrase komersial internasional Tapi itu bagus untuk memiliki kompetisi yang membuat kita semua di kaki kita. Dan acara selesai ditutup oleh MC.

Hak Cipta Universitas Tarumanagara © 2018